Bagian 3
B. BERBICARA
Kegiatan
berbicara adalah kegiatan yang tidak dapat dilepaskan dalam keseharian kehidupan
kita sebagai manusia. Sehingga sejak dini melalui mata pelajaran Bahasa
Indonesia siswa dilatih untuk belajar bicara. Tujuan dari belajar berbicara
adalah menyampaikan buah pikiran, gagasan dan ide dengan bahasa yang dapat
dipahami orang lain dengan tingkat kebahasaan sesuai dengan karakter umur dan
kelompok kelas siswa bersangkutan. Dengan berbicara maka segala unek-unek,
gagasan, ide dan pendapat akan tersampaikan. Apabila isi dari pembicaraan
seseorang mendapat tanggapan yang baik dari si penyimak maka akan menciptakan
efek kepercayaan diri yang lebih dari si pembicara untuk selanjutnya berkreasi
menyampaikan gagasan lainnya. Melalui penyampaian gagasan akan berdampak pada
daya imajinasi siswa dalam mengolah pikirannya sehingga akan meningkatkan daya
pikir dan logika. Tak ayal lagi hanya melalui melatih siswa dalam berbicara
mereka akan berkreasi tanpa batas menghasilkan manusia-manusia unggul dan
berhasil kelak dikemudian hari.
1. BAHAN
PEMBELAJARAN BERBICARA
Sebagai
pendukung upaya guru dalam membelajarkan pembelajaran berbicara beberapa bahan
pelajaran yang digunakan disesuaikan dengan metode pembelajaran yang digunakan.
Kesesuaian itu diperlukan karna antara media/bahan pembelajaran dengan metode
saling terkait. Bahan pembelajaran tersedia apbila tidak didukung oleh metode
yang tepat maka pembelajaran menjadi tidak bermakna. Demikian pula jika metode
pembelajaran dengan prosedur yang teratur dan baik tetapi tidak dilengkapi
dengan media ataau bahan ajar yang baik maka proses pembelajaran menjadi tidak
baik pula.
Beberapa
bahan atau media yang layak dipertimbangkan dalam membelajarkan berbicara
kepada siswa SD adalah :
- Media
bacaan sederhana baik fiksi maupun non fiksi yang dibaca habis oleh siswa yang
diramu dengan metode tanya jawab diskusi dan bermain peran
- Media
audio visual yang disajikan oleh guru yang diramu dengan metode diskusi, tanya
jawab dan bermain peran. Melalui tema yang disajikan pada media tersebut guru
memancing siswa agar dapat berbicara.
- Cerita
rekaan guru berdasarkan kejadian yang bersifat fiktif ataupun fakta, yang
diakhiri dengan kegiatan diskusi yang memberikan kesempatan kepada setiap siswa
untuk berpendapat dan setiap pendapat adalah baik dan mendapat reward dari
guru.
- Bahan
dibawa sendiri oleh siswa melalui metode penugasan dimana siswa ditugaskan
untuk menceritakan pengalamannya sendiri berdasarkan suatu tema yang
selanjutnya disajikan oleh siswa dalam bentuk tulisan untuk mempermudah guru
dalam mengevaluasi. Dengan kegiatan ini akan didapatkan manfaat berganda selain
siswa dibelajarkan tentang berbicara selebihnya mereka akan mendapat
pembelajaran menulis pula.
- Kegiatan
membahas puisi yang disajikan oleh siswa untuk kemudian di paraprase. Kegiatan
diskusi dapat mengikutinya sehingga terjadi interaksi lebih baik antara siswa
dan guru.
2. METODE
PEMBELAJARAN BERBICARA
Senada
dengan pembahasan di atas bahwa tanpa metode yang tepat maka bahan pembelajaran
dalam kaitannya dengan pembelajaran bahasa menjadi tidak berarti. Maka berikut
akan diuraiakan beberapa metode pembelajaran yang layak dipertimbangkan dalam
kegiatan berbicara pada pembelajaran Bahasa Indonesia SD.
a. Metode
Ulang Ucap
Kegiatan ini
dapat dimulai dari kegiatan sederhan terutama untuk kelas awal SD yaitu dengan
menugaskan siswa mengulang kata yang diucapakan oleh guru.
b. Metode
Lihat Ucap
Siswa
ditugaskan untuk mengucapkan sesuatu kata atau kalimat yang berhubungan dengan
benda yang diperlihatkan oleh guru
c. Metode
Memberikan Deskripsi
Dengan
metode ini siswa diberikan tugas untuk untuk mendeskripsikan suatu benda yang
diperlihatkan oleh guru. Keterampilan yang dilatih selain kemampuan pokok yaitu
mengungkapkan pendapat adalah megamati benda, memilih dan mencocokkan sehingga
sangat cocok diterapkan pada siswa kelas awal sampai menengah di Sekolah Dasar.
d. Metode
Menjawab Pertanyaan
Metode ini
sudah sangat umum sehingga dapat diterapkan pada kondisi dan jenis sembarang
bahan ajar. Pertanyaan dapat dikondisikan sedemian rupa oleh guru untuk
merangsang kreatifitas berfikir dan menyampaikan tanggapan terhadap suatu
masalah yang diajukan.
e. Metode
Bertannya
Metode
bertanya juga sangat layak digunaka pada sembarang bahan ajar. Dengan
menyajikan bahan ajar telebih dahulu kemudian siswa ditugaskan untuk membuat
pertanyaan tentang sesuatu yang tidak dipahami oleh siswa atau bahkan dalam
tataran menguji materi ajar itu sendiri. Dengan bertanya mereka akan mendapat
jawaban dan tanggapan tersebut. Tanggapan dan jawaban tersebut yang diterima
oleh siswa akan masuk dalam suatu kondisi benar dan tidak. Apabila siswa memang
dasarnya adalah murni bertanya maka setelah mendengarkan jawaban/tanggapan dan
menganalisanya akan menanggapi benar atau salah. Dan apabila siswa bermaksud
menguji sudah barang tentu mereka sudah memiliki jawaban dan hal itu adalah
proses berfikir yang selangkah lebbih maju. Sehingga siswa ini tergolong
memiliki kecerdasan lebih dan layak mendapatkan penghargaaan yang lebih pula.
Kondisi-kondisi unik lainnya dapat ditemui secara langsung dilapangan dengan
tingkat variasi dan kompleksitas yang lebih tinggi.
f. Metode
Pertanyaan Menggali
Metode ini
sangat baik digunakan jika kondisi siswa yang stagnan dan dengan rata-rata
tingkat pemahaman bahkan IQ biasa-biasa saja. Karna untuk mengantarkan mereka
kepada suatu pemahaman yang menjadi tujuan pembelajaran diperlukan
langkah-langkah yang menggiring siswa sehingga sampai pada suatu keadaan paham
kepada tema atau permasalahan yang ingin kita sampaikan. Terkadang usaha ini
agak sulit dan membuat kita jengkel karna harus berputar-putar mencari
pengandaian dan logika lain, akan tetapi disinilah letak seni kita sebagai
guru.Akhirnya siswa akan dapat berbicara untuk menyampaikan gagasan, ide dan
pendapat mereka.
g. Metode
Melanjutkan
Pada
kegiatan ini siswa secara bergilir ditugaskan untuk membuat ide cerita dan
siswa yang lainnya melanjutkan cerita tersebut. Dalam keadaan tertentu dapat
dikondisikan suatu bentuk permainan dalam kegiatan ini.
h. Metode
Menceritakan Kembali
Kegiatan ini
sudah sangat umum dilaksanakan terutama dalam pembelajaran yang menggunakan
bahan ajar certai baik fiksi maupun non fiksi. Dimana siswa ditugaskan untuk
membaca atau mendengar cerita untuk kemudian menceritakan kembali isi cerita
tersebut secara lisan di depan teman-teman mereka yang berperan sebagai audien.
Dengan kegiatan ini maka siswa akan tertantang untuk berlomba memahami cerita
yang sudah pernah mereka dengar atau basa.
i. Metode
Percakapan atau Bermain Peran
Kegiatan ini
sangat baik dilaksanakan untuk pemahaman tingkat lanjut tentang suatu cerita dimana
dengan memerankan siswa akan lebih memahami bukan hanya kepada alur cerita akan
tetapi akan lebiih kepada penjiwaan karakter masing masing tokoh. Dalam keadaan
ini pemahaman siswa terhadap cerita akan utuh karna dengan berbicara
mengucapkan naskah cerita atau drama mereka akan sangat menghayati setiap
adegan dan untaian kata percakapan yang diucapkan.
j. Metode
Parafrase
Metode ini
dapat dilaksanakan dalam kegiatan belajar menggunakan bahan ajar puisi yang
selanjutnya dirubah menjadi prossa yang kemudian siswa ditugaskan menceritakan
secara lisan hasil paraprase tersebut.
k. Metode
Reka Cerita Gambar
Metode ini
sangat kreatif dan layak untuk dicoba karna dengan menyajikan gambar acak siswa
akan mereka kembali dengan susunan yang benar urutan gambar tersebut. Dalam
kegiatan tersebut dengan sudah sangat pasti mereka akan berbicara setelah guru
bertanya, “Anak anak, Bagaimanakah susunan yang benar dai gambar tersebut ?” .
l. Metode
Memberi Petunjuk
Metode ini
layak juga untuk dicoba terutama untuk mempelajari bahan ajar tentang denah,
petunjuk penggunaan obat dan alat tertentu. Dengan penugasan untuk menyampaikan
hal tersebut siswa akan tertantang untuk berbicara dan menyampaikan penjelasan
berdasarkan ide dan pendapat masing-massing melalui bahasa sederhana dan
sesederhanapun penyampaian layak mendapat penghargaaan.
m. Metode
Pelaporan
Melalui
pengamatan terhadap obyek pada kegiatan tertentu siswa kemudian melaporkan
hasil pengamatan dengan penyampaian lisan yang didahului oleh konsep tulisan.
Dalam hal ini terjadi proses mirip dengan proses pada metode identifikasi akan
tetapi memiliki tingkat kerumitan yang lebih tinggi. Sehingga sesederhana
apapun penyampaian siswa layak dihargai karna sebagai awal mula yang baik untuk
proses penelitian dan pelaporan dalam kegiatan ilmiah yang sangat mendukung
proses meningkatkan kreatifitas siswa.
n. Metode
Wawancara
Kegiatan ini
adalah kegiatan tingkat tinggi dari bertanya hingga menganalisa jawaban audien
kemudian mengajukan pertanyaan berikutnya yang diikuti oleh proses pelaporan
layaknya seorang wartawan. Proses berbicara dari nkegiatan ini adalah awal dari
membentuk pribadi yang kritis dan santun .
o. Metode
Diskusi
Kegiatan ini
adalah proses interaksi tingkat tertinggi yang merangsang daya fikir, logika,
kritis dan santun. Dalam kegiatan ini sejelek apapun pendapat, sanggahan dan
klarifikasi siswa adalah hal yang maha baik dalam memulai suatu sikap peka
terhadap lingkungan dan isu-isu tertentu dalam mencari jalan keluar. Dimana
sudah barang tentu merupakan kreatifitas yang sangat layak mendapat
penghargaan.
p. Metode
Bertelpon
Seiring
dengan teknologi informasi yang kian maju maka keterampilan bertelpon sangat
penting dalam membentuk sikap cepat, efektif dan sopan dalam berkomunikasi.
Karna berbicara melalaui telpon tanpa hadirnya lawan bicara secara langsung
memerlukan tingkat kepekaan yang tinggi dalam tata cara pergaulan sehari-hari
dalam kegiatan bertelpon
q. Metode
Dramatisasi
Metode ini
adalah kelanjutan dari kegiatan bermain peran yang dilengkapi dengan tema,
seting, perwatakan, seting dan naskah drama yang ditampilkan secara utuh.
Kegiatan ini penuh dengan kegiatan berbicara sesuai dengantuntunan naskah yang
runtut.
Reference:
http://baliteacher.blogspot.com/2011/05/metode-pembelajaran-berbicara-bahasa.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar