Tentang Kita part 1 (Aku, Kamu,
dan BAQI)
“Ya Allah, Engkau yang mempertemukan kami dan pasti Engkau
pula yang memisahkan kami.”
Teringat pertama kali ketika aku melangkahkan kaki menuju
alFurqon, mencari-cari sebuah stand UKM BAQI dengan harapan bisa mengikuti
kegiatan tersebut untuk belajar mengaji. Tepatnya waktu itu jam 5 sore. Aku lihat
tulisan “Pendaftaran Anggota UKM BAQI UPI” di salah satu ruangan masjid alFurqon,
yang sekarang aku sudah mulai mengenalnya dengan sebutan “rumah kontrakan” atau
ruang biro. Rasa deg-degan itu muncul. Mungkin karena aku datang sangat telat
sekali. Lama aku berdiam diri diluar, mengamati beberapa akhwat (perempuan,
red) yang berdiskusi, entah apa. Niat untuk mengurungkan diri muncul begitu
saja. Ah, mungkin sudah telat. Pikirku. Namun tiba-tiba, Allah
mengarahkan kebaikan untukku, datang seorang teman yaitu Sella yang juga
berniat untuk mendaftar diri menjadi anggota BAQI. Aku diajaknya untuk memasuki
ruangan itu. Hatiku senang sekali.
Sama sekali tidak terpikirkan olehku untuk menjadi bagian
dari kepengurusan BAQI. Saat itu, belajar dan belajarlah yang aku inginkan. Aku
hanya ingin belajar mengaji. Titik. Akan tetapi, Allah selalu punya rencana
yang indah yang tidak pernah kita tahu. Mulailah suatu ketika aku mendapat
pesan singkat dari pengurus BAQI untuk mengikuti pertemuan GenQ (Generasi
Qurani) anggota baru di tempat yang sama, ruang biro. Beberapa anggota akhwat
baru sudah berkumpul, tanpa basa-basi, aku memperkenal diri kepada mereka, termasuk
pengurus BAQI (dengan PD-nya). Singkat cerita, urutan acara terakhir
dari pertemuan itu adalah pemilihan mas’ul dan mas’ulah (ketua laki-laki dan
perempuan, red) dari GenQ anggota baru. Beberapa cara sudah dilakukan, dari
mulai kesediaan pribadi, memilih lewat tutup mata sampai musyawarah, tidak juga
ada yang bersedia menjadi mas’ulah. Pada akhirnya, dengan sedikit terpaksa,
aku mengiyakan untuk menjadi mas’ulah setelah dibujuk teman-teman. Ya Allah,
rencana apa lagi yang ingin Engkau berikan?. Kata batinku.
Kalau ikhwan, saat itu hanya 2 orang yang hadir. Kang Redi
dan Kang Hasyim. Dan kang Redi yang diamanahkan menjadi mas’ul. Itulah
pertemuan pertamaku dengan keduanya. Hanya lewat suara, tidak tahu seperti apa
rupanya.
Aku selalu menyebutnya dengan jebakan terindah. Bagaimana
tidak?, aku diamanahkan untuk mengontrol kondisi teman-teman seangkatanku,
menyambungkan informasi-informasi tentang BAQI ke teman-teman, hal tersebut, masya
Allah, membuatku ingin menjadi orang yang utuh di BAQI.
Mengikuti masa-masa PMQ, bertemu Yuni dan Ummi dalam satu
tim, melihat semangat yang luar biasa, mengenal Fina Nafisah dan Hedya lebih
dekat, terakrabkan dengan beberapa sahabat GenQ yang sekarang raganya tidak ada
di BAQI, tapi mungkin masih menempatkan BAQI di hatinya. Bang Fadlul, Kang
Fahmi, yang ujug-ujug datang ke PMQ 3 padahal sebelumnya tidak pernah
ikut PMQ 1 dan 2, namun membawa semangat dan keceriaan yang menghangatkan, Kang
Egi, Kang Pratama, yang gigih selalu.
Beranjak kepengurusan pertama, awal edisi yang membuat
catatan anekdot (catatan sehar-hari, red) melebihi catatan matakuliahku
saat di kelas. Melihat, mengalami, dan merasakan betapa aku dipertemukan dengan
orang-orang tanggung. Kang Gun gun dengan BFU-nya di DSQ (membuat banyak orang
mengeluarkan air mata cinta dalam perjuangan da’wah), Bang Fadlul dengan
Bimbingannya di DPAQ (menggerakkan tanganmu untuk menuliskan lirik-lirik indah
nan syahdu yang terlukis dari lubuk hati), emm, alangkah nikmatnya saat
membuat lirik itu. Dan Kang Hasyim, yang menjadi partner terbaikku di DPPO
selama perjalanan PMQ dimulai, always spirit and never to complaint although
we like mother loss. Thanks for all.
Mba Yusti, mengenalmu bagai dijumpai dan menjumpai wewangian,
harum rasanya bisa bersahabat. Si Pemalu. Tak banyak bicara, rendah hati,
kreatif. Gue suka gaya Loe. Seingatku, kita saling mengenal ketika di kepengurusan
karena semangatmu di DTBQ. Kang Suyanto, yang setahuku sedikit sekali absen di
rapat DEPIKOM. Kok tahu? Kala itu aku terkadang nyumput waktu rapat
DEPIKOM. Masuk-masukan yang meyakinkan, dan kata-kata yang masih terngiang dari
Kang Suy adalah ya, siap teh, insya Allah. Dan Teh Awalia, ingatkah??? Aku
sering merepotkanmu untuk mengajariku bahasa Inggris. Hari selasa pagi. Sungguh,
hari ini diriku rindu untuk bertemu.
Teruntuk Ukhti (Yanti, Atun, Salis, Arti, Hatfina, Lisda,
Sella,...), Akhi (Dede, Tri Irvan, Fattah, Fahmi, Eris) kita satu kesatuan
dalam GenQ-24. Masuk bersama-sama, berjuang bersama-sama, merasakan pahit
bersama, manis bersama, meski terkadang kita jarang bertemu di forum BAQI.
Sungguh rindunya bertemu dengan kalian...
Tak lupa, cerita GenQ 24 ini terbumbui
dengan adanya kakak-kakak yang sering mengayomi kami. Dengan Teh Fitri dan Teh
Dyah, pertama akrab ketika aku bergabung di MDA. Kita sering nginep bareng,
makan di mayo, belajar tahsin bareng. Buat teh Dyah, makasih banget udah bantu
Selly buat survei-survei tempat PMQ dulu. (membuat adrenalin meningkat,
asli, bayarnya nanti dirapel ya, mang. Hehehe...). Inget deh, waktu itu
kita survei dari duhur sampai magrib, muter-muter lembang sama Kang Akom dan
Kang Hasyim.
Teh Nia, Teh Nurul, Teh Lia, dan Teh
Rini, kalian the best banget udah jadi kakak bagi kami. Ciri khas Teh
Lia, “selamat datang dirumah BAQI”, Teh Nurul, “hayo de, semangat”
dan “terimakasiiiiiihhhhh... buat bantuannya”, Teh Nia yang always
smile in all moment, bikin semua orang semangat dan kata-katanya yang tidak
mengecilkan hati. Teh Rini, dengan masukan-masukkannya yang bijak dan suka
bikin orang terpengaruh, termasuk aku. Hehehe...
For Kapten, Kang Akom Al Azam, Wise
people that i know.
Edisi revisi